Data Valid?

Valid tidaknya data yang dikumpulkan dari sebuah penelitian bisa bersumber dari kuesioner, interviewer dan responden. So, briefing, roleplay dan try out sebelum interviewer jalan ke lapangan adalah tahapan penting dalam riset yang tidak bisa diabaikan.

Para interviewer harus diberi product knowledge yang cukup tentang riset yang dilakukan dan keterampilan wawancara termasuk pendekatan ke responden. Pertanyaan dalam kuesioner harus dirancang sedemikian rupa agar mudah dipahami responden. Peneliti yang baik adalah peneliti yang memudahkan responden untuk menjawab, bukan sebaliknya, mudah bagi peneliti membuat kalimatnya tapi sulit dipahami orang (bahasa yang terlampau ilmiah, banyak istilah asing, njelimet, dll). Sebab, pertanyaan-pertanyaan yang dirancang sedemikian rupa dalam kuesioner adalah salah satu penyebab valid tidaknya data.

Dalam penelitian yang target respondennya masyarakat tidak semuanya baik hati, jujur, mudah didekati, sabar menunggu pertanyaan sampai dengan selesai, punya sikap positif dll. Terkadang interviewer hanya mampu membawa pulang satu atau dua kuesioner dalam sehari, padahal sudah bekerja hampir seharian penuh karena sulitnya mencari responden dengan cara perekrutan random (tidak memihak) dan juga kesulitan membuat janji wawancara. Bayangkan ini dilakukan dengan mendatangi unit tempat kediaman (UTK) masyarakat di berbagai kecamatan — kelurahan — RW — RT tertentu.

Tidak sembarang orang di jalan bisa diwawancara karena ada prosedur area mapping. Jika interviewer mencoba untuk memanipulasi data maka ada petugas QC (quality control) yang siap membabat habis seluruh kuesioner yang dikerjakan interviewer yang diduga cheating tersebut. Resikonya interviewer tersebut harus membayar sejumlah uang atau mengganti gift yang sudah terlanjur diberikan ke responden abal-abal tadi dan ybs tidak mendapatkan imbalan dari kuesioner yang telah dihasilkan. Dan tentu saja dicap sebagai pekerja lapangan yang tidak qualified.

Tingkat kesulitan penelitian ke masyarakat dengan random tadi seringkali membuat peneliti harus melakukan kompromi (DPR aja kerja pakai kompromi kan, hehe). Ada pertanyaan, bolehkah saya pindah ke RT lain jika RT yang muncul saat dirandom ternyata adalah wilayah yang sulit untuk mendapatkan responden di daerah itu? Sebagai contoh, di Solo ada daerah Solo Baru, di Jakarta ada banyak, contohnya di daerah Pondok Indah, di Jogja ada daerah Kota Baru. Jangankan dibukakan pintu rumah, pintu pagar pun terkunci rapat diiringi dengan gugukan sang anjing penjaga istana menyambut kedatangan interviewer. Belum lagi ketika sudah bisa masuk ke sebuah rumah, ternyata responden terpilih (ditentukan menggunakan metode kish grid sebagai implementasi simple random sampling — diambil melalui list anggota suatu rumah tangga) sulit ditemui. Sampai kapan harus menunggu? Sampai habis sisa umurku? 🙂. Kayak lagu aja.

Lagi-lagi kompromi harus dilakukan. Bisakah pindah ke rumah yang lain? Tentu bisa. Banyak buku penelitian bicara tentang sampling method yang ideal. Padahal kondisi di lapangan tidak selalu memungkinkan untuk menjalankan yang ideal-ideal tadi. Buku-buku tersebut belum memberikan solusi di lapangan yang banyak kendala. Sebagai contoh, kalau setiap melakukan penelitian harus jelas list populasinya, coba jawab pertanyaan ini. Apakah kita bisa menentukan secara pasti jumlah warga dalam satu RT? Pak RT saja pernah kami datangi tidak berani menjamin jumlah pasti warga yang menetap di RT-nya. Hari ini ada yang datang, besok ada yang pergi kuliah ke luar kota beberapa tahun. Apakah selalu semuanya dilaporkan?

Suatu ketika interviewer pernah membuat mapping dalam suatu wilayah demi bisa melakukan simple random sampling. Membuat mapping dalam satu RT itu bukan pekerjaan mudah. Bagaimana jika jumlah RTnya puluhan? Ratusan? Bisa jadi satu project riset tersendiri. Project mapping! Bahkan setelah digambar semua unit tempat kediaman di situ, demi mau menggunakan random UTK, ternyata tidak satupun orang di dalam rumah yang dirandom memenuhi kriteria untuk bisa dijadikan responden. Karena ybs tdk sesuai kelas sosialnya, sulit ditemui, bekerja pada bidang pekerjaan yang bisa menimbulkan bias dalam menjawab, atau bahkan sudah menolak duluan untuk diwawancara. Lalu bagaimana? Well, kalau bicara teori memang keliatannya semua gampang, indah-indah saja. Coba dijalani di lapangan maka kita bisa lebih bijak menilai mengapa peneliti beserta timnya harus melakukan berbagai kompromi. Bukan demi cari enaknya tapi agar penelitian tetap bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah keilmuan yang berlaku.

Gambar di bawah ini menunjukkan tim inti Brand Survey 15 melakukan roleplay untuk kedua kalinya pada para interviewer. Briefing dan roleplay pertama sudah dilakukan selama dua hari di Solo’s Bistro. Oiya tempat briefing yang nyaman itu penting. Interviewer adalah ujung tombak jalannya riset di lapangan. Bayangkan kalau interviewer kita tidak bisa menangkap materi briefing dengan baik, karena sumuk atau kencot (bahasa Purwokerto yang artinya lapar) bisa berabe riset kita mengandalkan mereka terjun ke lapangan. Lalu apalah artinya teori-teori canggih yang sedang kita uji keberlakuannya, apalah artinya advanced analysis yang kita lakukan kalau datanya saja tidak valid (ada yang bilang data sampah). Apalah artinya…

Tentang sumber ketakvalidan data dari sisi responden, informan, dan bagaimana menurunkan konsep menjadi pertanyaan dalam kuesioner (yang tentunya memerlukan logika berpikir yang jernih) maka timbul sebuah pertanyaan, perlukah… atau barangkali, logiskah…jika valid tidaknya data ditentukan justru dengan mendewa-dewakan uji-uji statistik sebagaimana yang sering kami jumpai pada sejumlah penelitian?

Atau pertanyaan ini, apakah kita sebagai peneliti selama ini hanya terampil berteori, namun kurang mampu membuat kuesioner atau daftar pertanyaan yang mudah dipahami responden/informan serta tidak memberi briefing, roleplay, dan try out yang cukup untuk para interviewer jalan ke lapangan? Nggak usah dijawab juga nggak papa lo ya ini. Hehe..

Bravo untuk tim riset Brand Survey 2015 Solo dan Jogja!

Status FB, 19 November 2014

Valid-blog2 Valid-blog1