Misyu

Tulisan ini mungkin bisa menjadi ungkapan hati siapa saja tentang “Misyu.”  Bisa jadi karena cuma bisa disimpan dalam hati karena mengatakannya pada yang dituju rasanya tidak mungkin, ngga enak, atau nunggu dia yang bilang dulu. Apapun itu, akhirnya “Misyu” ini cuma bisa ditulis.

“Misyu” bisa jadi ada hubungannya dengan rasa bahagia kalau bertemu dia, atau perasaan sayang banget, atau bahkan cinta.  Bahkan sesederhana atau sekelebatan “Misyu” ke tukang somay kampus karena libur semesteran yang cukup panjang. Cinta sama bakul somay? Bukan begitu juga ah, tapi karena mungkin ada rasa hepi semriwing ketemu sama dia lagi. Ah jadi pengen somay seplastik. Dasar gentong!

Kalau begitu “Misyu” ini ada levelnya.  Iya lah. Kan tadi sudah disebut. Bisa dimulai dari yang sederhana dan sekelebatan. Tapi bisa juga begini. Pernahkah kau menangis tertahan karena “Misyu”? Nangisnya diempet karena tiba-tiba merindu saat lagi nunggu giliran tampil di acara lomba 17-an (mumpung lagi musim lomba). Trus panitia mengumumkan bahwa lomba berikutnya adalah joget balon dengan pasangan masing-masing, atau lomba pindah bola dengan pasangan yang dipilih. Tetiba teringat dia, kok dia jauh ya, kenapa dia ngga di sini aja.  Tapi kalau dia di sini mungkin juga ngga ikut lomba sama dia, cukup ngobrol aja berdua sambil makan tahu isi yang disiapin panitia — berdua.  Iya berdua, karena begitu banyak cerita yang tertunda dan sepertinya pengen nyeritain semua yang diingat sebelum waktu habis, dari yang remeh temeh sampai yang berat banget, musti dicicil diceritain.

Siapa aja yang pernah merasa “Misyu” level dewa, begitu merasakan bahwa kemampuan berimajinasi menjadi suatu berkah tersendiri. Gak percaya? Minimal membayangkan senyum manisnya, gigi gingsulnya, bibir tebalnya, mata beloknya, jempol kakinya, rambut ketombeannya, sampai sandal jepitnya.

Tapi dalam taraf tertentu, menahan “Misyu” itu menghadirkan sensasi tersendiri. Terutama ketika tiba saatnya bertemu dan akhirnya  kata itu meluncur begitu saja lewat sekali hembusan nafas. Lalu keduanya tercekat dan…begitulah 🙂

True love never dies. It maybe somewhere you never expect.
True love never dies. It maybe somewhere you never expect.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *