Aku & Hendra

Suatu hari di saat tersisa 3 konsultan yang pitching untuk project sebuah bank, aku dan partnerku, Hendra, harus mengantar paket proposal yang telah dibuat sedemikian rupa mengerahkan segala tenaga, waktu, dan pikiran. Lembur dari pagi sampai pagi lagi selama beberapa hari dijabanin dengan hati yang kadang sudah tak bisa merasa lagi. Saking capeknya badan sampai udah kebal. Digigit nyamuk sampai hampir gak berasa. Sampai sempet mikir gini, biarinlah amal buat nyamuknya daripada neplokin satu-satu malah buang waktu nyelesein proposal. Sampai segitunya lo. Trus kalau ada temen dari tim lain yang niatnya support timku, dengan mampir meja kami untuk mijitin sebentar pundak kami malah kami marahin karena kok mijitnya bentar…kalau nggak niat mijit lama mending nggak usah mijit sono…Padahal jelas2 bukan terapis Naka***a yang tarif mijit 60 menitnya waktu itu 40rb.

Nah, saat akan mengantar paket proposal ke kantor klien yang jaraknya lumayan jauh dari kantor kami, akhirnya aku dan partnerku memutuskan untuk naik motor aja menembus kemacetan ibukota. Bukan kami berdua boncengan karena nanti jadi terbebani bawa motor dari kantor klien. Kalau bisa nggak ketauan lah kalau naek motor. Hehe.

Karena nyari ojek profesional butuh waktu dan jadi buang-buang waktu (segitunya lo sama waktu) akhirnya kami memanfaatkan OB yang berharap tambahan uang jajan untuk mengantar kami. Bak agen rahasia aku dan partnerku mengatur strategi bagaimana agar bisa cepat sampai ke kantor klien. Agak nggaya sih kalau dibilang strategi lawong sebetulnya ya cuma minta mas-mas OB-nya ini ngebut. Aku lupa siapa dulu yang jalan, entah aku atau partnerku, yang jelas kami janjian ketemu di kantor klien. La iyalah di kantor klien masak di warung makan Tegal Wiraboga (owh AW-nya temen2 kantor kala itu…Always Wiraboga maksudnya, bukan restoran American Way).

Akhirnya setelah sampai di kantor klien aku minta mas OB untuk meninggalkanku. Ketika melihat motornya menjauhiku aku baru sadar kalau mas OB yang membawaku adalah mas OB yang trengginas dalam membawa motor dan tertib dalam berlalulintas. Jadi selama di perjalanan aku nggak peduli siapa OB-nya ternyata. Yang penting merem dan sampai tempat tujuan. Sedangkan yang bersama partnerku adalah mas OB yang agak beringas dan diragukan kelengkapan atribut di motornya. Bener aja, nggak lama kemudian partnerku ngabarin kalau dia kena razia pulisi di jalan Pemuda. Udah telat tambah telat lagi ini. Telatnya nggak kira-kira itu. Hampir dua jam. Terbayang saat di perjalanan tadi, tiap ditanya klien sudah sampai mana, dengan maksud tidak mau berbohong aku dan partnerku bilang, sudah melewati jalan Pemuda padahal ngelewatinnya baru seuprit. Ditelfon lagi, bilang udah nglewatin Cikini padahal juga baru 10 meteran.

Hampir 30 menit rasanya aku nunggu partnerku dan aku lihat dari kejauhan dia berjalan tergesa-gesa sampai sepatunya kejepit nyemplung ke separator jalan. Lucu sebetulnya tapi susah menggerakkan bibir saat itu saking tegang mau ngomong apa kok telat bisa dua jam-an

Dan, saat penghakiman pun tiba. Rasanya waktu naik lift aku pengen bertukar jiwa sejenak dengan mas OB. Kalau bisa pasti dia mau. Saking pengen bisa jadi seperti kami yang ketemu klien dan makan-makan mulu di tempat enak. Ah, itu pikiran mereka aja enak. Aku mah udah eneg. Sempet mikir juga apa aku biarin partnerku sendiri yang menghadapi kebuasan klien ya. Aku membayangkan aku bilang gini ke Hendra “Gue pipis dulu ya, Ndra..” tapi gak balik-balik sampai akhirnya miting kelar baru aku nongol. Saat di lift mataku dan mata partnerku beradu. Kayaknya dia bisa membaca niat jahadku dan aku juga membaca niat jahadnya meski aku tahu dia bingung mau jalanin niat yang mana saking amatirnya. Hehe. Nggak lah, partneran itu menghadapi segalanya bersama. Apalagi inget perjuangan mas-mas OB ngebut nggak liat jalan dan betapa inginnya mereka jadi seperti kami yang menghasilkan project untuk menghidupi sekian banyak pekerja di tempat kami. Jadi terharu.

Ok, akhirnya masuklah kami ke ruang keramat. Tempat yang kata pegawai di situ hanya boleh dimasuki 3 konsultan terpilih dan divisi yang akan memberi kami project. Partnerku semakin ngedrop ketika ada pegawe yang mencegatnya di depan pintu ruang keramat hanya untuk bilang, “Oh iniiii yang daritadi ditungguin bilangnya udah sampai Cikini…” Gitu kurang lebihnya lah. Isyarat nonverbalnya lebih dahsyat karena matanya melirik tajam, bibirnya menjab-menjeb, dan lalu membuang muka. Demi membuat partnerku tenang aku bilang, “Udah biasa aja menghadapi segala sesuatu. Ntar pulang dari sini gue traktir tahu tek, deh.” Mungkin dia mikir, kalau tahu tek mah gue beli sendiri juga bisa keiless, eh kali, waktu itu belum tercipta kata keles.

Betapa kagetnya aku dan partnerku, dua kompetitor kami yang mewakili konsultannya masing-masing ternyata ikut menunggu kedatangan kami yang memaksa mereka menunggu dua jam lebih. Ditambah empat orang dari klien artinya semakin banyak saksi sejarah tentang kesesatan kami. Meski bibir nampak tersenyum tipis kami mencium aroma kebencian menyeruak dari isyarat nonverbal orang-orang yang ada di situ. Ya iyalah nunggu dua jam lebih, bisa dipakai untuk bikin proposal yang lain tauk!

Aku lupa bagaimana persis kejadiannya, partnerku menceritakan sakit hatinya ketika menerima ucapan seorang klien saat ada di ruangan keramat. Herannya aku nggak ngeh saat si bapak klien ngomong begitu. Yang jelas partnerku sedih dan penuh dendam. Untung waktu itu belum populer lagu sakitnya tuh sini. Kalau udah aku bakal lebih tertarik nyanyi lagunya ketimbang pura-pura ikut merasakan kesedihan partnerku.

Rupanya ada kebijakan di tempat klien kami yaitu ketiga konsultan yang tersisa, eh terpilih…harus menjadi saksi mata satu sama lain saat pihak klien membuka masing-masing amplop paket proposal. Ealaaah gitu to.

Setelah pembukaan dan penandatanganan dokumen selesai akhirnya tibalah saat kami untuk undur diri dari panggung sandiwara di ruang keramat. Akhirnya berlalu juga meski masih ada rasa kesel si Hendra ke bapak klien (kesel sebel ya bukan kesel capek).

Aku dan partnerku terjebak di lift yang sama dengan empat orang dari konsultan lain. Aku+Hendra berdiri di tengah-tengah mereka yang asik ngobrol sahut-menyahut seperti nggak ada tembok pembatas, yaitu kami. Dicuekin browww. Ok, mereka mau balamdendas. Secara nunggu dua jam-an nggak ngapa-ngapain. Mendingan bikin proposal project lain. Fine!

Bayangpun, membuat proposal demi proposal untuk berbagai klien dengan intensitas lembur almost everyday. Pulang jam 8 malem itu masih beruntung. Sering juga sampai jam 12 malam atau jam 4 pagi barengan sama keluarnya imam masjid berangkat shalat subuh. Proposal disubmit eh direvisi lagi, lagi, dan selalu di bagian harga. Kalau bagian kata mutiara atau hiasan kupu-kupu mau ada atau nggak klien nggak peduli. Bagian harga itu yang menentukan projectnya jadi jalan atau nggak. Belum lagi harus pergi-pergi briefing ke luar kota. Hidup dari pesawat satu ke pesawat lain, dari hotel satu ke hotel lain. Enak? Apaan…yang menyakitkan adalah ketika kau menginap di hotel bintang 5 dan kau hanya sempat tidur di kasur empuknya… melewatkan fasilitas keren yang ada di dalamnya. Agenda padat browww. Bikin presentasi hasil dan report untuk klien tercinta juga dijamin lembur selemburlemburnya. Oiya nyuting untuk film iklan juga lembur-lembur. Apa lagi ya biar tambah dramatis…, oiya ninggalin keluarga broww. Di satu sisi loe harus kerja biar cukup duit dan eksis tapi di sisi lain loe ninggalin orang-orang terkasih. Perhatian loe ke mereka berkurang gegara kerjaan. And so on, so on.

Mau ngomong apa siy. Ya udah kalau masih pada kuliah dapet tugas-tugas yang banyak dan berat dari dosen mah bersyukur aja diperhatiin dosen karena dikasih tugas berbobot. Belum ada apa-apanya dibanding perjuangan hidup di dunia fana ini selepas masa kuliah. Suatu saat kau akan merindukan masa-masa itu…masa-masa penuh dicobai sana-sini. Dan tiba saatnya nanti kau akan merasakan betul arti what doesn’t kill you makes you stronger..

*buat mahasiswaku tercinta

Status FB, 19 Desember 2014

Planet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *