Partner in Crime

Partner in Crime

Dulu, jam segini masih di kantor dan menyelesaikan report atau materi presentasi untuk pagi hari. Pulang ke kost jalan kaki yang jaraknya cuma 7 menit dari kantor. Kadang pulang jam 4 pagi, bareng sama imam mesjid shalat subuh. Kadang pulang jam 12 malam atau jam 1 pagi…mungkin juga pernah bareng sama maling jemuran atau maling motor kost-kostan. Tapi karena saking capeknya udah nggak peduli mau barengan siapa. Pokoknya pengen cepet sampai kost…cuci tangan cuci kaki, ganti baju, cuci muka, gosok gigi, wudhu, shalat, tidur (pura-pura lupa kalau belum mandi cantik sore, dan meyakinkan diri mandinya sekalian dirapel pagi). Tidur cuma 1-2 jam, jam 7 musti siap. Mandinya beneran pakai sabun dua kali (rapelan sama mandi sore), lalu meluncur untuk presentasi ke klien. Kadang nggak sempet sarapan dan berharap klien ngasih snack pagi yang bergizi. Hidupku waktu itu nggak selo banget. Tapi untungnya waktu itu aku tahan menderita dan berharap semua ini akan ada hikmahnya dan indah pada waktunya. Anak muda kan harus banyak belajar kerasnya kehidupan. Jadi inget aku pernah punya partner kerja baru, seminggu kerja udah mulai meriang, masuk angin, suka megangin kepala yang katanya cenut-cenut, dan akhirnya melarikan diri entah ke mana…nggak kerja lagi. Meninggalkan seniornya terpana dengan kerjaan seabreg. Raka Vishnu Adikrisnha

Dengan partner kerja yang lain, lepas maghrib udah siap-siap belanja snack ke A**on. Niatnya buat temen lembur sampai pagi. Beli kacang, buah mangga dan jeruk (padahal di lantai 3 nggak ada pisau, tuh kulit mangga mau dikrokotin gigi dulu apa ya), minuman ion-ion, coklat, es krim, dll. Jaman segitu nggak mikir lemak di perut. Lawong berat badan juga masih di bawah standar, dipake lembur-lembur pula. Jam 8 malem nyampe kantor, begitu duduk di kursi kerja…ealaaah listrik mati. Genset tidak berjalan sebagaimana mestinya…entah gimana…lupa. Akhirnya snack dimakan sedikit demi sedikit sampai menjelang jam 10 malem dan berujung ngantuk, lelah, lunglai. Duh, listrik belom nyala juga. Help!! Kerjain di kost masing-masing ya. Duileee…daritadi kek ya. Safi Alwi

Partner yang lain, hari Minggu janjian di kantor. Bawain es cendol yang ada tape ketan item sama bubur sumsumnya. Perasaanku waktu itu duduk di sebelahnya, aku lebih sering lihat doi nyuapin cendol ke mulutnya dibanding charting dan nabling (bikin tabel maksudnya). Sehalaman belum selesai udah masukin dua suap es cendol, kadang tiga suap, gitu aja terus. Cendolnya habis…nyari makanan yang lain. Sambil nanya, “Cendol lu masih ada nggak, Mbak?” Kayaknya sih mau diembat juga. Aku bilang, “Nanti kamu timbilen lo udah dikasihkan kok diminta lagi. Btw, lu mau kelar jam berapa, Ndrooo?! Senin besok udah presentasi, oooy.” Agung Wardhana

Partner kerja satu lagi, punya kebiasaan nginep di kantor. Maklum jomblo dan suka bilang mo nikah taon depan. Dari taon 2007 sampai sekarang pun bilangnya mau nikah taon depan. Hobinya nyetel alarm biar bangun jam 3 pagi, soalnya jam 12 malem udah ngantuk. Nggak sanggup ngelanjutin kerjaan. Sekalian mau shalat tahajud, katanya. Tahajud apa Isya ya. Alarm bunyi, dimundurin jam setengah 4 pagi. Bunyi lagi…dimundurin jam 4…terus gitu sampai tau-tau udah jam 6 dan heboh. “Duh gw musti berangkat ke luar kota ntar siang. Pesawat gw jam berapa ya. Wah materi belum selesei, gimana dooong.” Lebay dikit ya, Hidayati. Hahaha.

Miss you all, guys!

Sekarang aku udah nggak lembur-lembur dan pulang pagi-pagi kayak dulu lagi sih. Tapi pengalaman masa itu memberi pelajaran luar biasa untuk hidupku di dunia yang fana ini. Nah, kalau sekarang ini lembur gara-gara cari selingan. Bikin abstrak paper buat seminar yang deadlinenya besok kok ya nggak kelar-kelar, malah nyetatus. Memang harus disemprit kepepet dulu baru efektif. Deadline masih besok kok, masih ada 1×24 jam. Besok pagi masih sempet lah nonton Mockingjay part. 2 dulu. Setelah itu dilanjut lagi. Hopefully!

Status FB, 5 Desember 2015

 

 

Data Valid?

Valid tidaknya data yang dikumpulkan dari sebuah penelitian bisa bersumber dari kuesioner, interviewer dan responden. So, briefing, roleplay dan try out sebelum interviewer jalan ke lapangan adalah tahapan penting dalam riset yang tidak bisa diabaikan.

Para interviewer harus diberi product knowledge yang cukup tentang riset yang dilakukan dan keterampilan wawancara termasuk pendekatan ke responden. Pertanyaan dalam kuesioner harus dirancang sedemikian rupa agar mudah dipahami responden. Peneliti yang baik adalah peneliti yang memudahkan responden untuk menjawab, bukan sebaliknya, mudah bagi peneliti membuat kalimatnya tapi sulit dipahami orang (bahasa yang terlampau ilmiah, banyak istilah asing, njelimet, dll). Sebab, pertanyaan-pertanyaan yang dirancang sedemikian rupa dalam kuesioner adalah salah satu penyebab valid tidaknya data.

Dalam penelitian yang target respondennya masyarakat tidak semuanya baik hati, jujur, mudah didekati, sabar menunggu pertanyaan sampai dengan selesai, punya sikap positif dll. Terkadang interviewer hanya mampu membawa pulang satu atau dua kuesioner dalam sehari, padahal sudah bekerja hampir seharian penuh karena sulitnya mencari responden dengan cara perekrutan random (tidak memihak) dan juga kesulitan membuat janji wawancara. Bayangkan ini dilakukan dengan mendatangi unit tempat kediaman (UTK) masyarakat di berbagai kecamatan — kelurahan — RW — RT tertentu.

Tidak sembarang orang di jalan bisa diwawancara karena ada prosedur area mapping. Jika interviewer mencoba untuk memanipulasi data maka ada petugas QC (quality control) yang siap membabat habis seluruh kuesioner yang dikerjakan interviewer yang diduga cheating tersebut. Resikonya interviewer tersebut harus membayar sejumlah uang atau mengganti gift yang sudah terlanjur diberikan ke responden abal-abal tadi dan ybs tidak mendapatkan imbalan dari kuesioner yang telah dihasilkan. Dan tentu saja dicap sebagai pekerja lapangan yang tidak qualified.

Tingkat kesulitan penelitian ke masyarakat dengan random tadi seringkali membuat peneliti harus melakukan kompromi (DPR aja kerja pakai kompromi kan, hehe). Ada pertanyaan, bolehkah saya pindah ke RT lain jika RT yang muncul saat dirandom ternyata adalah wilayah yang sulit untuk mendapatkan responden di daerah itu? Sebagai contoh, di Solo ada daerah Solo Baru, di Jakarta ada banyak, contohnya di daerah Pondok Indah, di Jogja ada daerah Kota Baru. Jangankan dibukakan pintu rumah, pintu pagar pun terkunci rapat diiringi dengan gugukan sang anjing penjaga istana menyambut kedatangan interviewer. Belum lagi ketika sudah bisa masuk ke sebuah rumah, ternyata responden terpilih (ditentukan menggunakan metode kish grid sebagai implementasi simple random sampling — diambil melalui list anggota suatu rumah tangga) sulit ditemui. Sampai kapan harus menunggu? Sampai habis sisa umurku? 🙂. Kayak lagu aja.

Lagi-lagi kompromi harus dilakukan. Bisakah pindah ke rumah yang lain? Tentu bisa. Banyak buku penelitian bicara tentang sampling method yang ideal. Padahal kondisi di lapangan tidak selalu memungkinkan untuk menjalankan yang ideal-ideal tadi. Buku-buku tersebut belum memberikan solusi di lapangan yang banyak kendala. Sebagai contoh, kalau setiap melakukan penelitian harus jelas list populasinya, coba jawab pertanyaan ini. Apakah kita bisa menentukan secara pasti jumlah warga dalam satu RT? Pak RT saja pernah kami datangi tidak berani menjamin jumlah pasti warga yang menetap di RT-nya. Hari ini ada yang datang, besok ada yang pergi kuliah ke luar kota beberapa tahun. Apakah selalu semuanya dilaporkan?

Suatu ketika interviewer pernah membuat mapping dalam suatu wilayah demi bisa melakukan simple random sampling. Membuat mapping dalam satu RT itu bukan pekerjaan mudah. Bagaimana jika jumlah RTnya puluhan? Ratusan? Bisa jadi satu project riset tersendiri. Project mapping! Bahkan setelah digambar semua unit tempat kediaman di situ, demi mau menggunakan random UTK, ternyata tidak satupun orang di dalam rumah yang dirandom memenuhi kriteria untuk bisa dijadikan responden. Karena ybs tdk sesuai kelas sosialnya, sulit ditemui, bekerja pada bidang pekerjaan yang bisa menimbulkan bias dalam menjawab, atau bahkan sudah menolak duluan untuk diwawancara. Lalu bagaimana? Well, kalau bicara teori memang keliatannya semua gampang, indah-indah saja. Coba dijalani di lapangan maka kita bisa lebih bijak menilai mengapa peneliti beserta timnya harus melakukan berbagai kompromi. Bukan demi cari enaknya tapi agar penelitian tetap bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah keilmuan yang berlaku.

Gambar di bawah ini menunjukkan tim inti Brand Survey 15 melakukan roleplay untuk kedua kalinya pada para interviewer. Briefing dan roleplay pertama sudah dilakukan selama dua hari di Solo’s Bistro. Oiya tempat briefing yang nyaman itu penting. Interviewer adalah ujung tombak jalannya riset di lapangan. Bayangkan kalau interviewer kita tidak bisa menangkap materi briefing dengan baik, karena sumuk atau kencot (bahasa Purwokerto yang artinya lapar) bisa berabe riset kita mengandalkan mereka terjun ke lapangan. Lalu apalah artinya teori-teori canggih yang sedang kita uji keberlakuannya, apalah artinya advanced analysis yang kita lakukan kalau datanya saja tidak valid (ada yang bilang data sampah). Apalah artinya…

Tentang sumber ketakvalidan data dari sisi responden, informan, dan bagaimana menurunkan konsep menjadi pertanyaan dalam kuesioner (yang tentunya memerlukan logika berpikir yang jernih) maka timbul sebuah pertanyaan, perlukah… atau barangkali, logiskah…jika valid tidaknya data ditentukan justru dengan mendewa-dewakan uji-uji statistik sebagaimana yang sering kami jumpai pada sejumlah penelitian?

Atau pertanyaan ini, apakah kita sebagai peneliti selama ini hanya terampil berteori, namun kurang mampu membuat kuesioner atau daftar pertanyaan yang mudah dipahami responden/informan serta tidak memberi briefing, roleplay, dan try out yang cukup untuk para interviewer jalan ke lapangan? Nggak usah dijawab juga nggak papa lo ya ini. Hehe..

Bravo untuk tim riset Brand Survey 2015 Solo dan Jogja!

Status FB, 19 November 2014

Valid-blog2 Valid-blog1

 

Aku & Hendra

Suatu hari di saat tersisa 3 konsultan yang pitching untuk project sebuah bank, aku dan partnerku, Hendra, harus mengantar paket proposal yang telah dibuat sedemikian rupa mengerahkan segala tenaga, waktu, dan pikiran. Lembur dari pagi sampai pagi lagi selama beberapa hari dijabanin dengan hati yang kadang sudah tak bisa merasa lagi. Saking capeknya badan sampai udah kebal. Digigit nyamuk sampai hampir gak berasa. Sampai sempet mikir gini, biarinlah amal buat nyamuknya daripada neplokin satu-satu malah buang waktu nyelesein proposal. Sampai segitunya lo. Trus kalau ada temen dari tim lain yang niatnya support timku, dengan mampir meja kami untuk mijitin sebentar pundak kami malah kami marahin karena kok mijitnya bentar…kalau nggak niat mijit lama mending nggak usah mijit sono…Padahal jelas2 bukan terapis Naka***a yang tarif mijit 60 menitnya waktu itu 40rb.

Nah, saat akan mengantar paket proposal ke kantor klien yang jaraknya lumayan jauh dari kantor kami, akhirnya aku dan partnerku memutuskan untuk naik motor aja menembus kemacetan ibukota. Bukan kami berdua boncengan karena nanti jadi terbebani bawa motor dari kantor klien. Kalau bisa nggak ketauan lah kalau naek motor. Hehe.

Karena nyari ojek profesional butuh waktu dan jadi buang-buang waktu (segitunya lo sama waktu) akhirnya kami memanfaatkan OB yang berharap tambahan uang jajan untuk mengantar kami. Bak agen rahasia aku dan partnerku mengatur strategi bagaimana agar bisa cepat sampai ke kantor klien. Agak nggaya sih kalau dibilang strategi lawong sebetulnya ya cuma minta mas-mas OB-nya ini ngebut. Aku lupa siapa dulu yang jalan, entah aku atau partnerku, yang jelas kami janjian ketemu di kantor klien. La iyalah di kantor klien masak di warung makan Tegal Wiraboga (owh AW-nya temen2 kantor kala itu…Always Wiraboga maksudnya, bukan restoran American Way).

Akhirnya setelah sampai di kantor klien aku minta mas OB untuk meninggalkanku. Ketika melihat motornya menjauhiku aku baru sadar kalau mas OB yang membawaku adalah mas OB yang trengginas dalam membawa motor dan tertib dalam berlalulintas. Jadi selama di perjalanan aku nggak peduli siapa OB-nya ternyata. Yang penting merem dan sampai tempat tujuan. Sedangkan yang bersama partnerku adalah mas OB yang agak beringas dan diragukan kelengkapan atribut di motornya. Bener aja, nggak lama kemudian partnerku ngabarin kalau dia kena razia pulisi di jalan Pemuda. Udah telat tambah telat lagi ini. Telatnya nggak kira-kira itu. Hampir dua jam. Terbayang saat di perjalanan tadi, tiap ditanya klien sudah sampai mana, dengan maksud tidak mau berbohong aku dan partnerku bilang, sudah melewati jalan Pemuda padahal ngelewatinnya baru seuprit. Ditelfon lagi, bilang udah nglewatin Cikini padahal juga baru 10 meteran.

Hampir 30 menit rasanya aku nunggu partnerku dan aku lihat dari kejauhan dia berjalan tergesa-gesa sampai sepatunya kejepit nyemplung ke separator jalan. Lucu sebetulnya tapi susah menggerakkan bibir saat itu saking tegang mau ngomong apa kok telat bisa dua jam-an

Dan, saat penghakiman pun tiba. Rasanya waktu naik lift aku pengen bertukar jiwa sejenak dengan mas OB. Kalau bisa pasti dia mau. Saking pengen bisa jadi seperti kami yang ketemu klien dan makan-makan mulu di tempat enak. Ah, itu pikiran mereka aja enak. Aku mah udah eneg. Sempet mikir juga apa aku biarin partnerku sendiri yang menghadapi kebuasan klien ya. Aku membayangkan aku bilang gini ke Hendra “Gue pipis dulu ya, Ndra..” tapi gak balik-balik sampai akhirnya miting kelar baru aku nongol. Saat di lift mataku dan mata partnerku beradu. Kayaknya dia bisa membaca niat jahadku dan aku juga membaca niat jahadnya meski aku tahu dia bingung mau jalanin niat yang mana saking amatirnya. Hehe. Nggak lah, partneran itu menghadapi segalanya bersama. Apalagi inget perjuangan mas-mas OB ngebut nggak liat jalan dan betapa inginnya mereka jadi seperti kami yang menghasilkan project untuk menghidupi sekian banyak pekerja di tempat kami. Jadi terharu.

Ok, akhirnya masuklah kami ke ruang keramat. Tempat yang kata pegawai di situ hanya boleh dimasuki 3 konsultan terpilih dan divisi yang akan memberi kami project. Partnerku semakin ngedrop ketika ada pegawe yang mencegatnya di depan pintu ruang keramat hanya untuk bilang, “Oh iniiii yang daritadi ditungguin bilangnya udah sampai Cikini…” Gitu kurang lebihnya lah. Isyarat nonverbalnya lebih dahsyat karena matanya melirik tajam, bibirnya menjab-menjeb, dan lalu membuang muka. Demi membuat partnerku tenang aku bilang, “Udah biasa aja menghadapi segala sesuatu. Ntar pulang dari sini gue traktir tahu tek, deh.” Mungkin dia mikir, kalau tahu tek mah gue beli sendiri juga bisa keiless, eh kali, waktu itu belum tercipta kata keles.

Betapa kagetnya aku dan partnerku, dua kompetitor kami yang mewakili konsultannya masing-masing ternyata ikut menunggu kedatangan kami yang memaksa mereka menunggu dua jam lebih. Ditambah empat orang dari klien artinya semakin banyak saksi sejarah tentang kesesatan kami. Meski bibir nampak tersenyum tipis kami mencium aroma kebencian menyeruak dari isyarat nonverbal orang-orang yang ada di situ. Ya iyalah nunggu dua jam lebih, bisa dipakai untuk bikin proposal yang lain tauk!

Aku lupa bagaimana persis kejadiannya, partnerku menceritakan sakit hatinya ketika menerima ucapan seorang klien saat ada di ruangan keramat. Herannya aku nggak ngeh saat si bapak klien ngomong begitu. Yang jelas partnerku sedih dan penuh dendam. Untung waktu itu belum populer lagu sakitnya tuh sini. Kalau udah aku bakal lebih tertarik nyanyi lagunya ketimbang pura-pura ikut merasakan kesedihan partnerku.

Rupanya ada kebijakan di tempat klien kami yaitu ketiga konsultan yang tersisa, eh terpilih…harus menjadi saksi mata satu sama lain saat pihak klien membuka masing-masing amplop paket proposal. Ealaaah gitu to.

Setelah pembukaan dan penandatanganan dokumen selesai akhirnya tibalah saat kami untuk undur diri dari panggung sandiwara di ruang keramat. Akhirnya berlalu juga meski masih ada rasa kesel si Hendra ke bapak klien (kesel sebel ya bukan kesel capek).

Aku dan partnerku terjebak di lift yang sama dengan empat orang dari konsultan lain. Aku+Hendra berdiri di tengah-tengah mereka yang asik ngobrol sahut-menyahut seperti nggak ada tembok pembatas, yaitu kami. Dicuekin browww. Ok, mereka mau balamdendas. Secara nunggu dua jam-an nggak ngapa-ngapain. Mendingan bikin proposal project lain. Fine!

Bayangpun, membuat proposal demi proposal untuk berbagai klien dengan intensitas lembur almost everyday. Pulang jam 8 malem itu masih beruntung. Sering juga sampai jam 12 malam atau jam 4 pagi barengan sama keluarnya imam masjid berangkat shalat subuh. Proposal disubmit eh direvisi lagi, lagi, dan selalu di bagian harga. Kalau bagian kata mutiara atau hiasan kupu-kupu mau ada atau nggak klien nggak peduli. Bagian harga itu yang menentukan projectnya jadi jalan atau nggak. Belum lagi harus pergi-pergi briefing ke luar kota. Hidup dari pesawat satu ke pesawat lain, dari hotel satu ke hotel lain. Enak? Apaan…yang menyakitkan adalah ketika kau menginap di hotel bintang 5 dan kau hanya sempat tidur di kasur empuknya… melewatkan fasilitas keren yang ada di dalamnya. Agenda padat browww. Bikin presentasi hasil dan report untuk klien tercinta juga dijamin lembur selemburlemburnya. Oiya nyuting untuk film iklan juga lembur-lembur. Apa lagi ya biar tambah dramatis…, oiya ninggalin keluarga broww. Di satu sisi loe harus kerja biar cukup duit dan eksis tapi di sisi lain loe ninggalin orang-orang terkasih. Perhatian loe ke mereka berkurang gegara kerjaan. And so on, so on.

Mau ngomong apa siy. Ya udah kalau masih pada kuliah dapet tugas-tugas yang banyak dan berat dari dosen mah bersyukur aja diperhatiin dosen karena dikasih tugas berbobot. Belum ada apa-apanya dibanding perjuangan hidup di dunia fana ini selepas masa kuliah. Suatu saat kau akan merindukan masa-masa itu…masa-masa penuh dicobai sana-sini. Dan tiba saatnya nanti kau akan merasakan betul arti what doesn’t kill you makes you stronger..

*buat mahasiswaku tercinta

Status FB, 19 Desember 2014

Planet